Dasar-Dasar Value Investing

Durasi Baca: 2 menit

Value investing adalah salah satu metode pemilihan investasi. Ben Graham dan David Dodd, dari Columbia School of Business, mulai mengajarkan gagasan value investing pada tahun 1928. Para ahli mendefinisikan value investing dalam banyak cara dan ada banyak pendapat yang saling bertentangan mengenai hal itu. Namun, sebagian besar teori termasuk menemukan investasi yang undervalued adalah melalui analisis fundamental.

Warren Buffett adalah murid Graham. Jika Graham kemungkinan akan membeli hampir semua saham yang memenuhi kriteria analisis fundamental tertentu, Buffett tidak berhenti di situ. Dia lebih peduli tentang prospek bisnis di masa depan. Graham tidak merekomendasikan penggunaan proyeksi masa depan, karena itu adalah nilai yang tidak diketahui.

Mr. Buffet menggunakan analisis fundamental untuk memastikan bahwa perusahaan solid secara finansial dan memungkinkan perusahaan untuk bertahan melalui masa-masa sulit keuangan. Dia juga mencari perusahaan yang undervalued.

Akademisi telah mempelajari strategi untuk memilih saham menggunakan metode value investing dan telah menemukan strategi ini lebih unggul dari strategi investasi lainnya dan kinerja pasar secara keseluruhan. Namun, keunggulan ini hanya ditemukan dalam jangka panjang.

Berikut ini adalah poin-poin pokok tentang value investing:

  1. Value investing sebagian besar berfokus pada perusahaan yang harga sahamnya dinilai lebih rendah oleh pasar dibandingkan dengan nilai intrinsiknya, atau juga disebut undervalued. Nilai intrinsik dapat dianggap sebagai nilai sebenarnya dari saham perusahaan. Tidak hanya aset berwujud, tetapi juga aset tidak berwujud.
    • Seorang value investor mencari saham yang undervalued. Nilai intrinsik suatu saham tidak dapat benar-benar ditentukan dengan pasti.
    • Jika perusahaan memiliki sejumlah aset fisik dalam bentuk barang dagangan, bangunan, penilaian bisa akurat. Namun, nilai intrinsik lebih sulit ditentukan di perusahaan teknologi dan sejenisnya. Sangat sulit menilai perusahaan dengan aset intelektual secara akurat.
  2. Nilai intrinsik suatu bisnis bisa jauh lebih besar dari jumlah asetnya. Sebagai contoh, Indofood jauh lebih berharga daripada seluruh stok barang dagangan, bangunan atau mesin pabriknya. Merek, loyalitas pelanggan, dan pendapatan masa depan yang diharapkan membuatnya jauh lebih berharga.
    • Namun, ketika sebuah bisnis benar-benar gagal, nilai intrinsiknya dapat dikatakan memiliki nilai yang hampir sama dengan nilai pasar dari aset yang mendasarinya, yang dinilai sangat rendah oleh pasar.
    • Meskipun sangat jarang, masih mungkin untuk menemukan perusahaan yang asetnya sendiri melebihi penilaian sahamnya.
  3. Banyak situs web dan perusahaan sekuritas membagikan hasil analisis mereka dengan memasukkan nilai saham yang dimaksudkan untuk mewakili nilai intrinsik. Ini bisa menjadi titik awal yang baik untuk memulai penelitian Anda sendiri. Namun, perlu diingat bahwa ini hanya tebakan terbaik dari analis.
    • Memprediksi pendapatan masa depan, dividen, dan metrik lainnya dalam 10 tahun ke depan bukanlah ilmu pasti.
  4. Jarak antara nilai intrinsik dan harga saat ini biasanya disebut sebagai “margin of safety,” atau disingkat “MOS.” Jadi, jika Anda menilai nilai intrinsik saham adalah Rp1,250 per lembar dan harga saham saat ini di pasar adalah Rp1,000 per lembar, maka margin of safety Anda adalah 25%.
  5. Waktu adalah hal yang penting dalam value investing. Jika pasar menghargai perusahaan yang baik dengan harga yang terlalu rendah, mungkin perlu bertahun-tahun bagi pasar untuk menyadari kembali nilai sebenarnya dari perusahaan.

Value investing adalah metodologi yang baik bagi mereka yang bersedia menggunakan waktu dan upaya yang dibutuhkan untuk menilai perusahaan secara akurat. Investasi membutuhkan kesabaran dan kontrol emosional. Pemikiran logis dan rasional adalah komponen penting bagi keberhasilan seseorang dalam berinvestasi.

Jika Anda telah berinvestasi tanpa melakukan penelitian mendalam, mulai hari ini Anda mungkin ingin mempertimbangkan pendekatan yang lebih analitis. Angka-angka dalam laporan keuangan perusahaan tidak mewakili keseluruhan bisnis, tetapi jelas merupakan faktor penting.

Leave a Reply