7 Rasio Keuangan yang Sering Digunakan oleh Investor untuk Menganalisis Perusahaan

Durasi Baca: 3 menit

Ada begitu banyak rasio keuangan, sulit untuk mengetahui mana yang paling penting. Memahami beberapa rasio paling mendasar akan memungkinkan investor untuk menentukan analisis selanjutnya. Untungnya, semua rasio keuangan menggunakan aritmatika sederhana yang dipelajari di sekolah. Kuncinya adalah memahami pesan yang diberikan rasio-rasio keuangan.

Rasio keuangan tidak mewakili perusahaan secara keseluruhan, tetapi banyak informasi berharga dapat ditemukan dalam rasio keuangan dan dapat digunakan untuk membuat keputusan investasi.

Berikut ini adalah 7 rasio keuangan dalam laporan keuangan yang biasa digunakan oleh investor untuk menganalisis perusahaan:

  1. Price to Earning Ratio (PER) atau rasio harga saham terhadap pendapatan. Rasio ini digunakan untuk mengukur berapa banyak uang yang Anda bayarkan untuk setiap rupiah laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Jika saham perusahaan dijual dengan harga Rp1.000 per saham dan laba yang dihasilkan oleh perusahaan adalah sebesar Rp100 per saham, maka PERnya adalah 10. Ini berarti bahwa seorang investor yang ingin membeli saham ini bersedia mendapatkan Rp1 untuk setiap Rp10 yang diinvestasikannya.
    • PER = Harga per lembar saham / Laba bersih per lembar saham.
  2. Debt to Equity Ratio (DER) atau rasio utang terhadap ekuitas. Rasio ini membandingkan modal utang yang digunakan oleh perusahaan dengan modal pemegang saham (ekuitas). Secara umum, ekuitas perusahaan harus lebih besar dari jumlah utang. Jadi, jika rasionya adalah 1.0, itu berarti kreditor perusahaan secara teoritis memiliki klaim untuk semua ekuitas perusahaan. Tidak ada yang tersisa untuk pemegang saham.
    • DER = Total utang / ekuitas.
  3. Return on Equity (ROE) atau hasil pengembalian atas ekuitas. Rasio ini mengukur berapa banyak laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam ekuitas. Semakin tinggi ROE berarti semakin tinggi laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam ekuitas.
    • ROE = Laba bersih / ekuitas.
  4. Return on Assets (ROA) atau hasil pengembalian atas aset. Rasio ini mengukur berapa banyak laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset. Kursi kantor yang disimpan di gudang adalah aset, tetapi tidak menghasilkan pendapatan bagi perusahaan. Semakin tinggi ROA berarti semakin tinggi laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset.
    • ROA = Laba bersih / total aset.
  5. Current Ratio atau rasio lancar. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancar yang akan segera jatuh tempo dengan menggunakan aset lancar yang tersedia. Aset lancar adalah kas dan aset lainnya yang diharapkan dapat dikonversi menjadi uang tunai, dijual, atau dikonsumsi dalam waktu 12 bulan. Sedangkan kewajiban lancar adalah kewajiban yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan. Rasio lancar yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki banyak kas dan aset likuid untuk membayar semua tagihan. Tetapi penting untuk berhati-hati dan memahami mengapa rasio lancarnya tinggi. Persediaan yang tidak terjual dapat meningkatkan rasio lancar dan ini bisa menjadi tanda masalah penjualan. Rasio lancar yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan akan kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
    • Current Ratio = Aset lancar / utang lancar.
  6. Net Profit Margin (NPM) atau marjin laba bersih. Rasio ini membandingkan laba bersih perusahaan dengan penjualan. Semakin tinggi marjin laba bersih, semakin baik.
    • NPM = Laba bersih / penjualan.
  7. Dividen Yield. Rasio ini membandingkan dividen per saham dengan harga saham. Perusahaan dengan dividen yield yang tinggi lebih menarik bagi investor daripada perusahaan dengan dividend yield yang rendah. Dividend yield yang cukup besar adalah pertanda perusahaan yang sehat. Ini juga merupakan pertanda bahwa perusahaan sudah stabil dan matang (mature). Perusahaan baru yang sedang tumbuh lebih suka menginvestasikan kembali pendapatan mereka.
    • Dividend Yield = Dividen per lembar saham / harga per lembar saham.

Dalam menganalisis perusahaan menggunakan rasio keuangan, perbandingan harus dibuat dengan perusahaan yang setara baik dalam hal skala keuangan, sektor industri, dan subsektor perusahaan sehingga rasio-rasio ini dapat memberikan informasi yang lebih jelas yang dapat membuat proses pengambilan keputusan lebih tepat.

Rasio keuangan tidak hanya untuk para profesional keuangan. Memahami rasio keuangan diperlukan jika Anda melakukan analisis sendiri. Rasio keuangan memberikan pandangan cepat tentang kondisi keuangan perusahaan. Keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada rasio keuangan, tetapi memahami rasio keuangan adalah langkah pertama yang sangat baik.

Leave a Reply